Celana dalam ketat tidak baik untuk sperma
SALAH satu fakta yang perlu diketahui pria tentang
tubuhnya adalah daerah kelamin mereka tidak suka dengan celana dalam
ketat. Mengapa demikian?
Testis atau buah zakar pria yang bertugas memproduksi sperma membutuhkan suhu yang sedikit lebih rendah daripada suhu tubuh rata-rata bekerja secara efisien. Bila rata-rata suhu tubuh normal berkisar 37 derajat Celsius, maka suhu di daerah tersebut sekira 35 derajat.
Cara alami alat tersebut untuk menjaga mereka tetap dingin adalah dengan membuat mereka tergantung jauh dari tubuh. Jika suhu di luar terlalu dingin, maka otot dartos di dinding kontraksi testis dengan sendirinya akan tertarik menuju tubuh untuk menaikkan suhu.
"Dengan mengenakan pakaian ketat, testis yang mendekat ke tubuh akan kehilangan mekanisme alami yang mengatur suhu mereka. Secara teori akan lebih baik untuk pria yang memiliki masalah kesuburan untuk menghindari celana dalam ketat,” jelas Zaki Almallah, konsultan urologi Queen Elizabeth Hospital and BMI The Priory Hospital, di Birmingham, Inggris.
Pada penelitian yang diterbitkan pada 2012, Allan Pacey, dosen andrologi (studi reproduksi laki-laki) di University of Sheffield, menemukan bahwa pria yang memakai celana dalam ketat memiliki konsentrasi sperma yang bergerak lebih lemah dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai celana longgar seperti boxer.
"Hal ini menunjukkan bahwa membiasakan diri memakai celana dalam longgar dapat menjadi cara murah untuk membantu mengatasi masalah kesuburan," kata Profesor Pacey, sebagaimana dilansir dari Dailymail, Selasa (13/1/2015).
Kemudian, studi unik oleh Profesor Ahmed Shafik, seorang peneliti fisiologi seksual manusia, menemukan bahwa anjing yang dibuat untuk memakai celana dalam poliester selama dua tahun mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah sperma, pergerakan sperma, dan peningkatan sperma rusak.
Kondisi tersebut kemudian berubah setelah celana dalam poliester dilepas atau diganti dengan celana dalam katun. Profesor Shafik kemudian melakukan penelitian pada manusia pada 1999, dengan hasil yang sama seperti penelitian sebelumnya pada binatang.
Empat dari 11 laki-laki yang dibiasakan memakai celana dalam poliester mengalami pengurangan jumlah sperma setelah 14 bulan. Untuk kembali ke kondisi normal, mereka menunggu enam bulan setelah berhenti memakai celana dalam dengan bahan panas tersebut.
Sumber
Testis atau buah zakar pria yang bertugas memproduksi sperma membutuhkan suhu yang sedikit lebih rendah daripada suhu tubuh rata-rata bekerja secara efisien. Bila rata-rata suhu tubuh normal berkisar 37 derajat Celsius, maka suhu di daerah tersebut sekira 35 derajat.
Cara alami alat tersebut untuk menjaga mereka tetap dingin adalah dengan membuat mereka tergantung jauh dari tubuh. Jika suhu di luar terlalu dingin, maka otot dartos di dinding kontraksi testis dengan sendirinya akan tertarik menuju tubuh untuk menaikkan suhu.
"Dengan mengenakan pakaian ketat, testis yang mendekat ke tubuh akan kehilangan mekanisme alami yang mengatur suhu mereka. Secara teori akan lebih baik untuk pria yang memiliki masalah kesuburan untuk menghindari celana dalam ketat,” jelas Zaki Almallah, konsultan urologi Queen Elizabeth Hospital and BMI The Priory Hospital, di Birmingham, Inggris.
Pada penelitian yang diterbitkan pada 2012, Allan Pacey, dosen andrologi (studi reproduksi laki-laki) di University of Sheffield, menemukan bahwa pria yang memakai celana dalam ketat memiliki konsentrasi sperma yang bergerak lebih lemah dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai celana longgar seperti boxer.
"Hal ini menunjukkan bahwa membiasakan diri memakai celana dalam longgar dapat menjadi cara murah untuk membantu mengatasi masalah kesuburan," kata Profesor Pacey, sebagaimana dilansir dari Dailymail, Selasa (13/1/2015).
Kemudian, studi unik oleh Profesor Ahmed Shafik, seorang peneliti fisiologi seksual manusia, menemukan bahwa anjing yang dibuat untuk memakai celana dalam poliester selama dua tahun mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah sperma, pergerakan sperma, dan peningkatan sperma rusak.
Kondisi tersebut kemudian berubah setelah celana dalam poliester dilepas atau diganti dengan celana dalam katun. Profesor Shafik kemudian melakukan penelitian pada manusia pada 1999, dengan hasil yang sama seperti penelitian sebelumnya pada binatang.
Empat dari 11 laki-laki yang dibiasakan memakai celana dalam poliester mengalami pengurangan jumlah sperma setelah 14 bulan. Untuk kembali ke kondisi normal, mereka menunggu enam bulan setelah berhenti memakai celana dalam dengan bahan panas tersebut.
Sumber






0 komentar:
Posting Komentar